Senin, 18 September 2017

Guru Yang Dzalim Muridnya, Akan Sengsara

Profesi guru adalah sebuah profesi yang sangat mulia.
Guru tidak hanya bekerja hari ini untuk memenuhi kebutuhan hari ini, namun profesi guru lebih berorentasi pada kebutuhan masa depan.
Sebagai pribadi, profesi ini dijalankan sebagai pekerjaan yang menghasilkan uang untuk mencukupi kebutuhan ekonomi keluarga. Namun, sebagai makhluk sosial, tanggung jawab guru bukan hanya untuk hari ini, tapi untuk minimal 30 tahun kedepan dimana hasil kerja guru akan diuji sejauh mana peran anak didiknya mampu memegang posisi penting dalam kehidupan bermasyarakat, berbangsa, bernegara dan tentu juga dalam beragama.

Hasil Akhir.

Sukses dan tidaknya seseorang bukan berarti mutlak menunjukkan sukses atau tidaknya seorang guru dalam melaksanakan tugas mengajar dan bimbingan. Namun setidaknya guru telah memberi ilmu pengetahuan dan sikap terhadap peserta didiknya  untuk menyongsong masa yang jauh lebih kompleks agar mereka mampu tampil sebagai pemenang sesuai bidangnya nasing-masing.

Guru yang berhasil menghantarkan peserta didiknya menjadi insan yang berkamajuan (Pinjam istilah Muhammadiyah) , tentu akan menjadi amal sholeh bagi guru yang bersangkutan, sehingga atsar bagi guru tersebut sebuah kesejahteraan di dunia dan di akherat. Sebaliknya, hasil kinerja guru yang tidak mampu menghantarkan peserta didiknya meraih peluang disaat mereka harus siap menjadi pemegang peranan, hal ini guru telah gagal menyandang gelar "PROFESI" yang bisa saja berakibat hilangnya nilai keberkahan hidup, hilangnya keberkahan rizqi, dan barang kali ilmu yang disampaikan oleh guru tidak memiliki manfaat bagi peserta didiknya.

Refleksi.

Tugas mulia sebagai guru, hendaknya kita kerjakan dengan cara yang mulia.
Karakter dasar seorang guru tentu harus ssbar, kasih-sayang terhadap peserta didiknya, bertekad menjadi pendidik, pembimbing, pengajar dan sebagai contoh, idola dan pengayom bagi setiap peserta didiknya.
Jadikan peserta didiknya sebagai ajang beramal sholeh dan pemegang amanah bagi ilmu yang dimilikinya.  Do'a dari murid-murid kita menjadi investasi besar baik didunia naupun di akherat.

Terdapat sorang yang hanya menjadi guru namun dia berhasil menyekolahkan putra-putrinya sampai tinggi, hidup berkecukupan.
Sebaliknya adapula guru yang selalu ketinggalan. Aktif hutang Bank, hutang koperasi bahkan setiap akhir tahun subuk pusing melihat catatan tabungan anak murid yang begitu banyak dan harus segera dibagikan namun uangnya entah kemana. Ujung-ujungnya kembali pinjam Bank walaupun harus menutup separo hutang tahun lalu yang belum lunas.